PENGERTIAN DAN SEJARAH ILMU , KALAM, TAUHID DAN USULUDDIN
Anda juga bisa ikut ambil peran dalam penyebaran pengetahuan bebas.
Mari bergabung dengan sukarelawan
Bahasa Melayu! Tutup Ilmu kalam
Ilmu kalām (Arab: علم الكلام) adalah disiplin filsafat mencari prinsip-prinsip teologi Islam melalui dialektika. Dalam bahasa Arab perkataan ini secara harfiah bermakna "kata-kata". Seorang cendekiawan kalam digelari sebagai seorang mutakallim (ahli teologi Islam; jamak mutakallimiin). Terdapat banyak tafsiran mengapa disiplin ini digelar "kalam"; salah satu alasannya adalah kontroversi terbesar dalam bidang ini berkaitan dengan Firman Allah, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, bisa dianggap sebagai bagian dari esensi Tuhan dan karena itu tidak diciptakan, atau apakah itu dibuat menjadi kata-kata dalam arti normal berbicara, dan karena itu dibuat. Sekolah kalam utama
Ash'ari Imami Maturidi Murji'ah Mu'taziliyah
ASAS Akidah =Haji • Puasa • Syahadat • Salat • Zakat •
Tauhid Tokoh Islam =Muhammad • Nabi & Rasul • Ahlul Bait • Sahabat • Tabi'in • Tabi'ut Tabi'in Teks dan peraturan Al Qur'an= • Fiqih • Hadist • Kalam • Sirah •
Syari'ah Mazhab • Syafi'i Syi'ah Dua Belas Imam • Ismailiyah • Zaidiyah Lainnya Ibadi • Khawarij • Murji'ah • Mu'taziliyah Gerakan Islam Hizbut Tahrir • Ikhwanul Muslimin • Sufisme • Wahhabi • Salafiyah Negara dengan penduduk Islam Afrika Aljazair • Chad • Djibouti • Guinea • Libya • Mali • Mauritania • Maroko • Mesir • Nigeria • Sahara • Somalia • Senegal • Sudan • Tunisia Asia Afganistan • Arab Saudi • Azerbaijan • Bahrain • Bangladesh • Brunei • Indonesia • Irak • Iran • Kirgizstan • Kuwait • Malaysia • Maladewa • Lebanon • Oman • Pakistan • Suriah • Tajikistan • Turkmenistan • Uzbekistan • Uni Emirat Arab Eropa Albania • Bosnia-Herzegovina • Kosovo • Turki Lainnya Indeks artikel tentang Islam
Telah disepakati OLRH ULAMAK ULMAK TAUHID DAN DUNIA.,bahwa percaya kepada ushuluddin adalah sebuah kemestian dan tidak ada perbedaan pendapat mengenainya. Namun terdapat perbedaan pendapat tentang apakah percaya terhadap ushuluddin harus berdasarkan ilmu yang sudah yakin dan pasti ataukah cukup dengan sebuah zhan (prasangka). Jika harus berdasarkan ilmu yang pasti, apakah ilmu tersebut harus berdasarkan dalil ataukah cukup dengan taklid. Pendapat kebanyakan menyatakan bahwa percaya terhadap ushuluddin harus berdasarkan ilmu dan pengetahuan yang pasti dan tidak cukup berdasarkan prasangka saja. Dalam sejarah perkembangan ilmu usuluddin, kalam, tauhid dan akidah terdapat dua aliran pokok, iaitu rasional dan tradisional. Aliran rasional dicetuskan oleh kaum Muktazilah dengan tokohnya, antara lain Abu Huzail al-Allaf (135-235 H), an-Nazzam (185-321 H), Mu’ammar bin Abbad, al-Jahiz Abu Usman bin Bahar (w.225 H) dan al-Jubba’i (w. 303 H) yang telah mempelajari dan memanfaatkan filsafat dalam menangkis argumen-argumen filosofis yang dikemukakan oleh lawan-lawan kaum muslimin. Akal dalam aliran rasional menempatkan kedudukan yang tinggi. Akal dapat mengetahui adanya Tuhan, kewajipan berterima kasih pada Tuhan, perbezaan antara yang baik dan yang jahat serta kewajipan manusia untuk melakukan kebaikan dan menjauhi yang jahat. Menurut aliran ini, kemampuan akal tersebut tetap ada seandainya Tuhan tidak menurunkan agama kepada manusia.
Di pihak lain aliran tradisional tidak memberikan kedudukan dan kemampuan demikian terhadap akal. Hal ini kerana sebelum hadirnya agama, kemampuan akal hanya terbatas pada mengetahui adanya Tuhan dan untuk mengetahui selain itu adalah di luar kemampuan akal. Kaum As’ariah termasuk yang menganut pendirian ini dengan tokoh-tokoh, antara lain Abu Bakar Muhammad al-Baqillani (w. 403H/1013 M), Abu Bakar al-Juwaini dan al-Ghazali. Selain dua aliran tersebut terdapat aliran lain, iaitu Maturidiah. Aliran ini mencuba menempuh jalan tengah dari kedua aliran pokok tersebut. Namun, dalam kenyataannya pendirian-pendirian teologis kaum Asy’ariyah lebih banyak dianut masyarakat muslim, sedangkan pendirian Muktazilah hanya dianut lapisan terbatas. Pendirian kaum Maturidiah kurang populer. Buku-buku yang ditulis mengenai ilmu ini sampai sekarang tak terbilang lagi jumlahnya, di antaranya :al-Majmu’fi al-Muhit bi at-Taklif (Kumpulan tentang hal-hal yang Meliputi Kewajiban/Beban) oleh Abdul Jabbar bin Ahmad, Risalah at-Tauhid (Tulisan tentang Tauhid) dan Hasyiyah ‘ala al-‘Aqa’id al-‘Adudiah (komentar tentang Akidah-Akidah yang Menyesatkan) oleh Syekh Muhammad Abduh, Kitab Usul ad-Din (Kitab mengenai Dasar-dasar Agama) oleh al-Bagdadi, al-Milal wa an-Nihal (Agama dan Aliran-akirannya) oleh Muhammad Abdul Karim asy-Syahristani, al-Irsyad ila Qawati al-Adillah fi Usul al-Itiqad (Petunjuk Menuju Dalil-dalil Pasti dalam Dasar-dasar Keyakinan) oleh al-Juwaini, Kitab at-Tauhid (Kitab mengenai Tauhid) oleh Abu Mansur Muhammad al-Maturidi, dan Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan oleh Prof.DR Harun Nasution.
Imamah, membenarkan imamah atau kepemimpinan para imam dua belas. Seluruh ulama teologi Syiah Imamiyah sepakat mengenai ushul ini. Ushul ini menjadi sebuah kemestian mazhab. Para imam semuanya maksum dan penjaga syariat. Mereka menunjukkan manusia kepada hakikat dan semua manusia wajib mengikuti para imam. Imam kedua belas, Imam Mahdi Af, saat ini masih hidup dan sedang dalam fase gaib, yang suatu saat pasti akan muncul dengan izin Allah. Ma’ad, berdasarkan ushul ini semua manusia akan kembali dihidupkan setelah kematiannya dan akan ditimbang seluruh amal baik dan buruknya. Umat Islam pada umumnya meyakini kebangkitan kelak berupa kebangkitan jasmani, yaitu tubuh ukhrawi manusia setelah kematian akan kembali menjadi tubuh jasmani.
Anda juga bisa ikut ambil peran dalam penyebaran pengetahuan bebas.
Mari bergabung dengan sukarelawan
Bahasa Melayu! Tutup Ilmu kalam
Ilmu kalām (Arab: علم الكلام) adalah disiplin filsafat mencari prinsip-prinsip teologi Islam melalui dialektika. Dalam bahasa Arab perkataan ini secara harfiah bermakna "kata-kata". Seorang cendekiawan kalam digelari sebagai seorang mutakallim (ahli teologi Islam; jamak mutakallimiin). Terdapat banyak tafsiran mengapa disiplin ini digelar "kalam"; salah satu alasannya adalah kontroversi terbesar dalam bidang ini berkaitan dengan Firman Allah, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, bisa dianggap sebagai bagian dari esensi Tuhan dan karena itu tidak diciptakan, atau apakah itu dibuat menjadi kata-kata dalam arti normal berbicara, dan karena itu dibuat. Sekolah kalam utama
Ash'ari Imami Maturidi Murji'ah Mu'taziliyah
ASAS Akidah =Haji • Puasa • Syahadat • Salat • Zakat •
Tauhid Tokoh Islam =Muhammad • Nabi & Rasul • Ahlul Bait • Sahabat • Tabi'in • Tabi'ut Tabi'in Teks dan peraturan Al Qur'an= • Fiqih • Hadist • Kalam • Sirah •
Syari'ah Mazhab • Syafi'i Syi'ah Dua Belas Imam • Ismailiyah • Zaidiyah Lainnya Ibadi • Khawarij • Murji'ah • Mu'taziliyah Gerakan Islam Hizbut Tahrir • Ikhwanul Muslimin • Sufisme • Wahhabi • Salafiyah Negara dengan penduduk Islam Afrika Aljazair • Chad • Djibouti • Guinea • Libya • Mali • Mauritania • Maroko • Mesir • Nigeria • Sahara • Somalia • Senegal • Sudan • Tunisia Asia Afganistan • Arab Saudi • Azerbaijan • Bahrain • Bangladesh • Brunei • Indonesia • Irak • Iran • Kirgizstan • Kuwait • Malaysia • Maladewa • Lebanon • Oman • Pakistan • Suriah • Tajikistan • Turkmenistan • Uzbekistan • Uni Emirat Arab Eropa Albania • Bosnia-Herzegovina • Kosovo • Turki Lainnya Indeks artikel tentang Islam
Telah disepakati OLRH ULAMAK ULMAK TAUHID DAN DUNIA.,bahwa percaya kepada ushuluddin adalah sebuah kemestian dan tidak ada perbedaan pendapat mengenainya. Namun terdapat perbedaan pendapat tentang apakah percaya terhadap ushuluddin harus berdasarkan ilmu yang sudah yakin dan pasti ataukah cukup dengan sebuah zhan (prasangka). Jika harus berdasarkan ilmu yang pasti, apakah ilmu tersebut harus berdasarkan dalil ataukah cukup dengan taklid. Pendapat kebanyakan menyatakan bahwa percaya terhadap ushuluddin harus berdasarkan ilmu dan pengetahuan yang pasti dan tidak cukup berdasarkan prasangka saja. Dalam sejarah perkembangan ilmu usuluddin, kalam, tauhid dan akidah terdapat dua aliran pokok, iaitu rasional dan tradisional. Aliran rasional dicetuskan oleh kaum Muktazilah dengan tokohnya, antara lain Abu Huzail al-Allaf (135-235 H), an-Nazzam (185-321 H), Mu’ammar bin Abbad, al-Jahiz Abu Usman bin Bahar (w.225 H) dan al-Jubba’i (w. 303 H) yang telah mempelajari dan memanfaatkan filsafat dalam menangkis argumen-argumen filosofis yang dikemukakan oleh lawan-lawan kaum muslimin. Akal dalam aliran rasional menempatkan kedudukan yang tinggi. Akal dapat mengetahui adanya Tuhan, kewajipan berterima kasih pada Tuhan, perbezaan antara yang baik dan yang jahat serta kewajipan manusia untuk melakukan kebaikan dan menjauhi yang jahat. Menurut aliran ini, kemampuan akal tersebut tetap ada seandainya Tuhan tidak menurunkan agama kepada manusia.
Di pihak lain aliran tradisional tidak memberikan kedudukan dan kemampuan demikian terhadap akal. Hal ini kerana sebelum hadirnya agama, kemampuan akal hanya terbatas pada mengetahui adanya Tuhan dan untuk mengetahui selain itu adalah di luar kemampuan akal. Kaum As’ariah termasuk yang menganut pendirian ini dengan tokoh-tokoh, antara lain Abu Bakar Muhammad al-Baqillani (w. 403H/1013 M), Abu Bakar al-Juwaini dan al-Ghazali. Selain dua aliran tersebut terdapat aliran lain, iaitu Maturidiah. Aliran ini mencuba menempuh jalan tengah dari kedua aliran pokok tersebut. Namun, dalam kenyataannya pendirian-pendirian teologis kaum Asy’ariyah lebih banyak dianut masyarakat muslim, sedangkan pendirian Muktazilah hanya dianut lapisan terbatas. Pendirian kaum Maturidiah kurang populer. Buku-buku yang ditulis mengenai ilmu ini sampai sekarang tak terbilang lagi jumlahnya, di antaranya :al-Majmu’fi al-Muhit bi at-Taklif (Kumpulan tentang hal-hal yang Meliputi Kewajiban/Beban) oleh Abdul Jabbar bin Ahmad, Risalah at-Tauhid (Tulisan tentang Tauhid) dan Hasyiyah ‘ala al-‘Aqa’id al-‘Adudiah (komentar tentang Akidah-Akidah yang Menyesatkan) oleh Syekh Muhammad Abduh, Kitab Usul ad-Din (Kitab mengenai Dasar-dasar Agama) oleh al-Bagdadi, al-Milal wa an-Nihal (Agama dan Aliran-akirannya) oleh Muhammad Abdul Karim asy-Syahristani, al-Irsyad ila Qawati al-Adillah fi Usul al-Itiqad (Petunjuk Menuju Dalil-dalil Pasti dalam Dasar-dasar Keyakinan) oleh al-Juwaini, Kitab at-Tauhid (Kitab mengenai Tauhid) oleh Abu Mansur Muhammad al-Maturidi, dan Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan oleh Prof.DR Harun Nasution.
Imamah, membenarkan imamah atau kepemimpinan para imam dua belas. Seluruh ulama teologi Syiah Imamiyah sepakat mengenai ushul ini. Ushul ini menjadi sebuah kemestian mazhab. Para imam semuanya maksum dan penjaga syariat. Mereka menunjukkan manusia kepada hakikat dan semua manusia wajib mengikuti para imam. Imam kedua belas, Imam Mahdi Af, saat ini masih hidup dan sedang dalam fase gaib, yang suatu saat pasti akan muncul dengan izin Allah. Ma’ad, berdasarkan ushul ini semua manusia akan kembali dihidupkan setelah kematiannya dan akan ditimbang seluruh amal baik dan buruknya. Umat Islam pada umumnya meyakini kebangkitan kelak berupa kebangkitan jasmani, yaitu tubuh ukhrawi manusia setelah kematian akan kembali menjadi tubuh jasmani.

Tiada ulasan:
Catat Ulasan